Rabu, 27 April 2016

Kebudayaan Kita Semakin Tergusur



Kebudayaan Kita Semakin Tergusur
Sebuah persoalan dalam bidang budaya yang masih mendesak pemahaman kita ialah mengapa kebudayaan Indonesia sejak tahun 1980-an berada dalam keadaan kurang mengembirakan, ia semakin tergeser, tergusur, dan tersingkir dari pusat dan puncak perhatian dan kesibukan kita sehari-hari. Ini memang bukan persoalan baru, dan memang sudah ramai di perbincangkan pada awal 1980-an, tapi setiap ada yang mempertanyakan apa yang saat ini harus di perhatikan dalam sebuah kebudayaan Indonesia, saya cenderung menunjuk pada tidak lagi mementingkan kebudayaan sebagai problematika terpenting.
Musim temu budaya daerah sebagai penyangga budaya nasional bermunculan diberbagai kota seakan-akan budaya kita pada masa ini menghadapi kemunduran biarpun seorang pakar budaya masih penting. Seorang pakar budaya pada masa pra-Orde baru mungkin seperti seorang Iwan Fals, Abdurrahman Wahid, atau Laksamana Soedomo. Pada tahun 1970-an orang sudah mengeluh tentang kebudayaan, tapi pada waktu itu masih ada hiruk-pikuk perdebatan dan persaingan yang tak banyak tersisa. Sejauh itu masih ada yang perlu di pertanyakan terhadap kesadaran akan wawasan Nusantara yang kadang masih diselimuti oleh chauvinis kedaerahan dan kebudayaan yang pada akhir-akhir ini akan kembali berona sejarah seperti ketika berkecamuknya masa renaisance dan aufklarung di benua barat tiga abad yang lalu. Apabila dengan kian terasanya arus globalisasi peradaban masyarakat industri maju, yang mengandalkan materialisme dan membawa wabah konsumerisme, pengusuran mau tak mau pasti terjadi. Banyak sendi budaya yang ditinggalkan.
Impor, Asing dan Modern
Diantara masalah itu, antara lain mengenai pemahaman kita tentang kebudayaan secara umum, khususnya kebudayaan Indonesia atau Nasional, kebudayaan -kebudayaan daerah dan asing peranan agama, ilmu pengetahuan budaya, bahkan, sampai pada masalah yang lebih kecil seperti, masalah minat baca dan sebagainya. Drs HM. Idham Samawi mengatakan, bahwa apa yang kita rasakan saat ini adalah sebuah kondisi di mana bangsa dan negara saat ini berada dalam suatu arus yang sangat besar yang membatasi (marjinalisasi). Kita dapat melihat secara langsung bagaimana petani terpuruk, buah lokal digusur oleh buah impor, kebudayaan kita tersingkir oleh kebudayaan asing, dalam kasus kebudayaan, kita melihat dengan jelas bagaimana anak-anak disihir oleh film-film asing ditengah ketidakmampuan kita melihat film bagi anak-anak kita. Dalam peta kehidupan masyarakat modern yang menjunjung tinggi budaya pragmatis, nilai- nilai kebudayaan yang menjunjung tinggi keselarsan (harmoni), cenderung tersingkir. Sebab, nilai- nilai kebudayaan itu di pandang kurang relevan dengan kehidupan masyarakat modern.
Masalah merampingnya kebudayaan Indonesia akhir-akhir ini menjadi perbincangan di kalangan seniman dan budayawan. Hal itu berarti bahwa sebenarnya kalangan seniman dan budayawan bukan bereaksi menghadapi realitas dan masalah yang timbul, melainkan mereka sekedar bereaksi menanggapi masalah dan realitas itu.
Pejabat pemerintah yang punya kompetisi dengan kesenian tradisional supaya citra negara terangkat dimata dunia dan pencaturan International, masih berdiri dengan perjanjian (konvensi) lama, negara dan pejabat negera hanya memfungsikan kesenian Indonesia untuk kepentingan praktis, karena titik tolak pandangan dan sikapnya masih pada batas bahwa kesenian tradisional dan modern adalah instrumen kegiatan ritual. Hal itu tidak membutuhkan perhatian dalam porsi yang besar, yang sama dengan sektor-sektor kehidupan lain tidakkah jatah untuk kebudayaan hanya 2,7 persen dari ranangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) pada berita terakhir.
Kebudayaan masih dianggap instrumen yang berfungsi praktis, umpamanya untuk tujuan pelancongan (turisme) bagi peningkatan sumber devisa negara, para seniman yang mengembangkan etos kebudayaan masih bergulat dengan banyak pihak kearah perbaikan kesenian Indonesia di masa depan. Raudal Tanjung Banua mengatakan, bahwa tataran kebudayaan dengan kemungkinan nasionalisme kebudayaan tidak terlalu digali, bahkan cendrung dinibsikan. Akan tetapi dari proyek nasionalisme yang mengotamakan arus negara itu, bangsa-bangsa diringkus menjadi sekedar suku bangsa. Disusun sebuah ruang kebudayaan yang lebih lapang telah dihilangkan, demi kemauan politis. Perlu di pahami kita memperbincangkan tergusurnya kedudukan kebudayaan sebagai suatu pranata sosial. itu tidak membicarakan budaya secara detail.bukan juga nilai budaya masyarakat. Ini perlu ditekankan karena perbincangan tentang tergusurnya peran sosial budaya sering di pahami secara keliru sebagai kritik atau tuduhan terhadap sosial budaya. Seakan- akan gejala ini saya kira merupakan kesalahan pihak budayawan.
Kesalahpahaman seperti itu, merupakan akibat dominasi tradisi romantisme yang terlalu menekankan aspek individual budayawan dan nilainya. Mengabaikan kebudayaan sebagai pranata sosial. menyebut nasib pranata kebudayaan dianggap sebagai serangan pribadi terhadap para budayawan. Akibatnya, budayawan yang berwawasan sempit menyangkal terjadinya gejala pengerdilan dan penggusuran kebudayaan dalam pembangunan. Karena merasa di serang, mereka membela diri dan membela status quo dengan mengatakan kebudayaan sekarang baik- baik saja, kalau ada penilaian yang negatif atas perkembangan budaya, maka itu di anggap sebagai kegagalan atau ketololan para kritikus budaya yang kurang paham kepada kebudayaan.
Model hubungan inilah, kita menampilkan cara-cara pemahaman yang baru sebagai paradigama postrukturalisme, dengan melibatkan sebagai disiplin yang lain, yang kemudian melahirkan pemahaman kebudayaan-kebudayaan yang bernuansa Islami dan berpegang teguh pada agama itu sendiri. Kondisi masyarakat Indonesia yang dinamis sebagai akibat hubungan antara agama dan kebudayaan. Penelitian dan studi kultural perlu ditekankan untuk dapat memberikan sumbangan yang positif dalam rangka mengungkapkan latar belakang sosial khususnya yang ada di Indonesia, sehingga agama dan kebudayaan benar-benar memiliki arti bagi masyarakat luas.

Sabtu, 16 April 2016

Pengaruh Teknologi Pada Remaja

Pengaruh Teknologi Pada Remaja

Artikel Globalisasi Teknologi Pengaruh Teknologi Pada Remaja – Di zaman yang sudah sangat maju ini, anak  remaja mana yang tidak mengenal makna dari kata “Globalisasi”? Hampir 90% dari mereka yang sudah akrab bahkan menjadikan globalisasi sebagai bagian dari kehidupan mereka. Adapun 10% yang tidak mengenal dan tidak memahami kata globalisasi adalah remaja yang masih jauh tertinggal dari modernisasi.
Umumnya mereka yang tinggal di dalam suku pedalaman dan masih memegang teguh adat istiadat yang sudah diturunkan turun-temurun dari nenek moyang mereka. Sebagian besar dari mereka tidak menempuh jenjang pendidikan dan lebih memilih tinggal di rumah dan membantu orang tua. Maka tidak heran jika mereka sama sekali tidak mengenal makna globalisasi, bagaimana bisa mereka mengenal? Baca tulis pun mereka tidak bisa.
Seperti apa yang sudah dijelaskan sebelumnya, hampir 90% remaja yang sudah sangat mengenal kata “Globalisasi”. Walaupun kata globalisasi sudah sangat dikenal akrab, bukan berarti globalisasi itu tidak memberikan dampak bagi para remaja. Globalisasi dapat kita jadikan sebagai teman, atau pun sebagai lawan. Teman yang baik tentu saja dapat memberikan dampak yang baik pula. Begitu pula dengan lawan, lawan yang kejam juga dapat akan memberikan dampak yang kejam pula bagi kita. Nah, seperti itu pulalah globalisasi dapat berdampak bagi remaja. Sebagai anak remaja yang terpelajar, kita harus dapat memilah-milah dampak dari globalisasi, mana yang patut dicontoh, dan mana yang tidak. Mana yang patut dijadikan teman, dan mana yang harus dijadikan musuh.
Pengaruh Teknologi Pada anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.
Kali ini kita akan membahas dampak-dampak apa sajakah yang dapat dihasilkan dari globalisasi. Baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Namun sebelum itu, saja akan menjelaskan berbagai macam penjelasan dari “Globalisasi” sebagai pendahuluan kita. Dalam pengertian yang luas,globalisasi adalah proses penyebaran unsur-unsur baru khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronik. Ada pula yang mendefinisikan globalisasi sebagai hilangnya batas ruang dan waktu akibat kemajuan teknologi informasi. Menurut Achmad Suparmanglobalisasi merupakan suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah.
Globalisasi terjadi karena faktor-faktor nilai budaya luar seperti
  • Selalu meningkatkan ilmu pengetahuan,
  • Patuh hukum,
  • Kemandirian,
  • Keterbukaan,
  • Rasionalisasi,
  • Etos kerja,
  • Kemampuan memprediksi,
  • Efisiensi dan produktivitas,
  • Keberanian bersaing,
  • Manajemen resiko.
Globalisasi terjadi melalui berbagai saluran, diantaranya:
  • Lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan,
  • Lembaga keagamaan,
  • Industri internasional dan lembaga perdagangan,
  • Wisata mancanegara,
  • Saluran komunikasi dan telekomunikasi internasional,
  • Media elektronik termasuk internet,
  • Etika dan budaya.
Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan dari media apa sajakah yang dapat menjadi sumber dari dampak-dampak globalisasi bagi para remaja. Masa-masa remaja dapat dikatakan masa yang paling menyenangkan. Kebanyakan remaja masih memiliki sifat cenderung labil atau cenderung mengikuti perkembangan di sekitarnya. Mereka beranggapan pada masa remaja, mereka dapat dengan bebas melakukan apa yang mereka suka. Jika tidak mengikuti perkembangan, berarti mereka tidak modern atau ketinggalan zaman.
Dengan sifat seperti itu, akan lebih banyak dampak globalisasi yang mereka dapatkan secara tidak sadar. Baik itu dampak positif maupun negatif. Sumber dari dampak-dampak bagi para remaja umumnya mudah didapatkan dari perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan, perkembangan dalam media komunikasi, elektronik, termasuk internet, dan juga dalam perkembangan etika dan budaya. Pernahkah kita berpikir untuk membandingkan masa-masa saat orang tua kita masih remaja dengan masa remaja kita sekarang? Pernahkah kita bertanya pada mereka bagaimana menurut mereka tentang perbedaan zaman remaja dulu dengan yang sekarang? Jika kalian bertanya, jawabannya sudah dipastikan, “Sangat jauh berubah”. Bagaimana perubahannya? Sebagian berubah menjadi jauh lebih baik, dan sebagian lainnya berubah menjadi sedikit lebih buruk dan mengecewakan. Itu semua diakibatkan oleh dampak dari globalisasi. Dapatkah kalian sebutkan perubahan-perubahan itu? Jika tidak, kita akan membahasnya bersama-sama

Dampak Perubahan Globalisasi atau Dampak positif globalisasi
Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Di zaman saat Indonesia sedang di jajah dan setelah merdeka, tidak banyak dari remaja Indonesia saat itu yang dapat menempuh jenjang pendidikan. Hanya sebagian remaja anak dari bangsawan yang dapat menempuh jenjang pendidikan. Beberapa tahun setelah itu, sudah mulai terlihat peningkatan jumlah remaja yang menempuh jenjang pendidikan. Walaupun demikian, jalan untuk menempuh pendidikan tidak semudah yang dibayangkan.
Tidak sedikit dari mereka yang memiliki seragam sekolah dan buku pelajaran. Kebutuhan sekolah mereka masih sangat minimum untuk didapatkan. Masa demi masa, perkembangan mulai meningkat. Kini hampir seluruh remaja sudah dapat dengan mudah untuk mengenyam pendidikan apalagi dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah yang diberikan oleh pemerintah. Bahkan pada masa kini, perkembangan ilmu pengetahuan sudah diikuti dengan perkembangan media elektronik, seperti televisi dan internet.
Perkembangan Komunikasi, Elektronik, beserta Medianya
Pada masa saat orang tua kita masih se-umuran kita, alat komunikasi memang sudah ada, namun masih belum se-canggih pada masa kita saat ini. Alat elektronik pun juga sebenarnya sudah ada, seperti radio dan televisi berlayar hitam putih. Namun walau demikian, alat elektronik seperti itu masih sangat jarang orang yang memilikinya. Bukan karena itu kuno, namun karena bagi mereka harga elektronik itu sangat mahal.
Berbanding terbalik dengan masa saat ini, sudah sangat jarang remaja yang hobby mendengarkan radio, bukan karena bagi mereka mahal, namun karena beranggapan radio merupakan salah satu alat elektronik kuno yang sudah ketinggalan zaman. Mereka lebih suka alat-alat elektronik yang lebih canggih dan modern. Seperti MP3 Player, MP4 Player, Laptop, Hand Phone, dan sebagainnya. Zaman dulu, televisi hanya berlayar hitam putih. Seiring dengan perkembangan model-model televisi sudah mulai berkembang jauh lebih canggih, seperti TV LCD, TV LED, TV 3D, bahkan adapula Internet TV.
Perkembangan itu terjadi pula pada alat komunikasi. Zaman dulu, kebanyakan orang berkomunikasi dengan orang yang jauh dengan surat-menyurat. Paling canggih bagi mereka saat itu menggunakan telepon kabel. Berbeda dengan sekarang, remaja kini sudah tidak perlu berkomunikasi dengan surat-menyurat, mereka sudah memiliki alat yang lebih canggih. Yang dapat mengirimkan pesan hanya dalam beberapa detik, berbeda dengan surat yang baru akan diterima selama berminggu-minggu. Diantaranya Hand Phone dan Internet.
Kedua media itu sangat memiliki banyak fungsi, yaitu; Hand Phone dapat berfungsi sebagai media komunikasi 2 arah, saling mengirim pesan singkat (SMS), beberapa Hand Phone juga menyediakan layanan internet, radio, kamera, bahkan mp3. Di zaman saat ini, berkomunikasi dengan orang yang berada jauh dari kita tidak hanya dapat dilakukan dengan menelpon yang hanya dapat mendengarkan suara saja, berkomunikasi di zaman sekarang terasa sangat lebih mudah, karena kita juga dapat berkomunikasi dengan bertatap muka dan sekaligus mendengar suara. Sehingga kita merasa seperti berbincang dan bertatap muka secara langsung, tanpa dibatasi oleh waktu dan jarak. Sebut saja media canggih itu, “Video Call“.
Perkembangan Budaya
Di masa orang tua kita dahulu masih remaja, cara berpakaian dan model baju yang mereka kenakan masih sangat sederhana. Tidak se-unik dan se-modern pakaian remaja saat ini. Pada masa lalu, jika menghadiri acara resmi, masih banyak dari mereka yang menggunakan baju tradisional, seperti baju adat, dan kebaya. Berbeda dengan sekarang, remaja yang ingin menghadiri acara resmi seperti pesta ulang tahun, lebih memilih untuk mengenakan baju casual yang berciri khas kan kebarat-baratan.
Namun, dengan perkembangan mode berpakaian ini memberikan banyak keuntungan. Salah satunya, telah terdapat busana muslim dengan bahan atau pola yang berasal dari daerah lokal. Begitu juga dengan kebaya yang sudah dimodifikasi sesuai dengan gaya yang lebih modern. Begitu juga dengan batik. Bahkan batik saat ini sudah banyak diminati oleh masyarakat di luar Indonesia.

Dampak Perubahan Globalisasi atau Dampak Negatif globalisasi
Perkembangan Komunikasi, Elektronik, dan Medianya.
Di masa yang sudah dapat dikatakan sangat modern ini, elektronik pun sudah tak dapat hidup jauh dari kita. Namun, perkembangan itu menimbulkan banyak dampak yang merugikan remaja, diantaranya:

1. Pola hidup konsumtif
Perkembangan industri yang pesat menyebabkan penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu, masyarakat terutama kalangan remaja untuk mudah tertarik mengkonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.

2. Sikap individualistik
Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju menyebabkan mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktifitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.
Perkembangan Etika dan Budaya
Siapa sangka etika remaja masa kini jauh lebih baik dengan remaja masa lalu? Ternyata itu memang benar adanya, hanya sedikit dari kalangan remaja yang benar-benar menerapkan sikap sopan dan santun di lingkungannya, baik kepada yang lebih tua maupun kepada yang lebih muda.

Kisah Inspiratif: Balita Ini Selamatkan 5 Nyawa Dengan Mendonorkan Organnya Setelah Meninggal Akibat Kanker Otak



Kisah Inspiratif: Balita Ini Selamatkan 5 Nyawa Dengan Mendonorkan Organnya Setelah Meninggal Akibat Kanker Otak
Sesama manusia kita dituntut untuk saling tolong menolong". Ya, kata-kata itulah yang selalu diucapkan oleh orang tua kepada anaknya. Memang pada kenyataannya manusia yang sejatinya merupakan makhluk sosial tentunya tidak bisa hidup sendirian, maksudnya kapan pun dan dimana pun meski itu tidak direncanakan manusia selalu membutuhkan pertolongan sesamanya. Dan jika diri kita yang dimintai pertolongan oleh orang lain meskipun orang tersebut tidak pernah kita kenal sama sekali tetapi kita harus bersedia menolongnya, karena tentunya suatu saat kita juga pasti akan membutuhkan pertolongan orang lain dan anggap saja semua makhluk ciptaan Tuhan merupakan saudara yang harus saling membantu apapun keadaannya. Tolong menolong juga merupakan salah satu keperluan dalam hidup kita. Manusia memiliki kelebihan yang berbeda-beda, nah kelebihan ini bukan harus dimanfaatkan untuk diri sendiri saja melainkan untuk orang lain yang membutuhkan. Agar bisa mewujudkan hubungan yang harmoni serta saling melengkapi maka manusia membutuhkan satu sama lain.
Nah, untuk melakukan kebaikan seperti menolong orang lain yang kesusahan tidak ada patokan umur yang harus ditentukan. Karena semenjak kita kecil pun tentunya masing-masing orang telah dibekali nasihat oleh orang tuanya untuk selalu melakukan kebaikan terhadap sesama, dan maksud orang tua menasehati kita sejak kecil tersebut yaitu agar pada saat itu juga atau kelak kita bisa menjadi orang yang bermanfaat dan bisa menolong sesama yang membutuhkan tanpa imbalan apapun dan hanya berharap imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Seperti halnya balita yang berumur 3 tahun ini, meskipun ia masih sangat belia tetapi ia rela membantu orang-orang disekitarnya yang membutuhkan. Bahkan ketika akhir hidupnya, balita ini selamatkan 5 nyawa dengan mendonorkan organnya untuk kesembuhan orang-orang disekitarnya yang membutuhkan. Dan anak kecil inilah merupakan suatu jawaban atas do'a ke 5 orang yang selama ini berdo'a agar mendapatkan bantuan pendonor untuk selamatkan nyawa masing-masing. Di bawah ini merupakan kisah hebat balita tersebut.


Mengidap Kanker Otak Ganas
Liu Jingyao, itulah nama balita kecil yang memiliki hati malaikat. Liu Jingyao merupakan seorang balita perempuan 3 tahun yang berasal dari China. Meskipun masih sangat belia tetapi balita ini harus sudah menerima kenyataan hidup yang sangat pahit, dimana ia mengidap penyakit yang sangat ganas yakni kanker otak ganas. Penyakit yang menyerangna tersebut membuat balita ini tidak bisa hidup seperti balita-balita lain pada umumnya, jika balita lainnya bisa terus hidup dan menikmati keindahan dunia ini, namun berbeda dengan Liu Jingyao, karena penyakit yang dideritanya tersebut ia didiagnosa tidak akan bisa hidup lebih lama lagi.
Dan diagnosa tersebut pada kenyataannya memanglah benar, tidak lama dari itu balita mungil tersebut meninggal akibat penyakit yang dideritanya tersebut. Diketahui,  sebelum balita ini menderita penyakit yang sangat berat ia merupakan balita yang sangat aktif dan juga periang.

Meskipun Masih Kecil, Tetapi Liu Jingyao Setuju Untuk Sumbangkan Organ Tubuhnya

Kanker otak ganas yang menyerang balita kecil ini baru diketahui pada awal tahun 2014 silam. Akibat penyakit yang dideritanya ini, Liu Jingyao yang awalnya merupakan bocah yang sangat aktif berubah setelah penyakit ini menyerangnya. Dimana penyakit yang diderita Liu Jingyao membuat kepalanya menjadi besar karena mengalami pembengkakan. Bahkan Liu Jingyao juga mengalami kesulitan untuk berbicara.
Nah, dimasa-masa kritis Liu Jingyao, ayahnya menceritakan dan menasehati balita ini tentang hal kebaikan dan untuk selalu berbuat baik seperti menyumbangkan organ tubuhnya untuk orang lain, dan balita yang belum mengetahui bagaimana arti kehidupan ini sesungguhnya setuju dan paham untuk mendonorkan organ tubuhnya jika suatau saat sang maha pencipta mengambil nyawanya, seperti yang dilansir oleh stomp.com.sg. Nah, dalam kondisi seperti ini butuh perjuangan yang sangat keras dari anggota keluarga lainnya  agar bisa setuju dengan pemikiran Liu Jingyao. Dan keputusan dari balita ini telah banyak mencuri perhatian tim medis bahkan semua orang didunia ini. Mengapa tidak, jika pada umumnya orang lain ingin meninggal dengan keadaan tubuh yang lengkap, justru balita yang tidak mengerti apa-apa ini lebih memilih untuk menolong orang lain.
Masa-masa perjuangan Liu Jingyao melawan penyakit yang dideritanya tersebut berakhir pada tanggal 23 September di People's Hospital of Jiangxi, China Selatan. Pada saat itu, setelah meninggal tim medis melakukan pembedahan untuk mengambil organ tubuh Liu Jingyao. Dimana organ tubuh yang diambil dari balita ini yakni, jantung, hati, ginjal dan kornea mata. Organ tubuh dari balita ini diberikan kepada lima orang yang membutuhkan.
Transplantasi organ dari Liu Jingyao sudah dilakukan pada pasien yang membutuhkan. Dan sejauh ini kondisi penerima donor stabil, bahkan mereka bisa kembali normal seperti sediakala dan tentunya ini berkat seorang malaikat kecil Liu Jingyao.
Dengan rasa bangga dan kebaikan hati, sang ayah menyampaikan pesan kepada mendiang puterinya "Kamu telah menyalakan kehidupan untuk lima orang. Dan kamu merupakan putri terbaik paling mengagumkan di duni ini".
Sungguh mulia balita kecil tersebut. Semoga apa yang dilakukannya di dunia ini mendapatkan balasan yang setimpal dari Tuhan di alam sana. Semoga keluarga yang ditinggalkannya pun diberi ketabahan.
Nah, sahabat apa yang dilakukan oleh balita ini merupakan suatu cerminan untuk kita semua. Mengapa tidak, hati bak malaikat yang dimilikinya mampu mengajarkan kita akan pentingnya rasa mengasihi dan menolong terhadap sesama. Meskipun keadaan kita tidak memungkinkan, tetapi itu bukanlah hambatan untuk kita terus berbuat kebaikan. Dan meskipun Liu Jingyao merupakan anak kecil yang masih sangat belia tetapi tidak ada salahnya untuk kita semua belajar dari sikap kepahlawanan dari dirinya. Nah, mulai dari sekarang bantu lah mereka yang membutuhkan bantuan kita tanpa pamrih dan mengharapkan balasan apapun. Lakukanlah itu semata-mata untuk mencari ridho dari Tuhan Yang Maha Esa. Ketahuilah sahabat bahwa menolong orang lain akan membuat orang lain bahagia, dan akan menimbulkan rasa kepuasan dan kebanggaan pada diri sendiri bahwa kita bisa tumbuh menjadi manusia yang berguna.